Tips Menanamkan Kesadaran Tulus Meminta Maaf pada Anak (Ilustrasi freepik.com)

Tips Menanamkan Kesadaran Tulus Meminta Maaf pada Anak; oleh Sayyidah Nuriyah, Konselor SD Muhammadiyah 2 GKB Gresik (Berlian School).

Karena ucapan mohon maaf lahir dan batin tak hanya saat Idul Fitri saja, tapi berlangsung sepanjang hidup. Juga tak sebatas di mulut saja, tapi bertumbuh dari hati yang tulus.

PWMU.CO – Idul Fitri telah hadir di depan mata. Pertanda ucapan memohon maaf lahir dan batin akan terlantun di tengah silatuhim antarteman maupun keluarga. Para orangtua biasanya menjadikan momentum ini sebagai kesempatan yang pas untuk mengajarkan anak meminta maaf maupun memaafkan.

Kita semua tentu sepakat, saling memaafkan tak hanya terjadi pada saat Lebaran. Harapannya, anak terbiasa saling memaafkan dengan tulus pada kondisi-kondisi yang diperlukan sepanjang hidupnya. Yaitu ketika anak terbukti berbuat salah atau menghadapi kesalahan dari orang lain di sekitarnya.

Bukan permintaan maaf sebatas di mulut untuk menghindari konflik panjang berlanjut yang kita harapkan terjadi pada anak kita. Pemaafan semu seperti ini biasanya masih menyisakan rasa dongkol yang terpendam di hati.

Lantas pada akhirnya rasa menyakitkan itu terlupakan (sementara) begitu saja hingga menumpuk menjadi luka tak kasat mata. Ketika menemui kesalahan serupa dari orang yang sama di kemudian hari, akan diungkit kembali sejarah khilafnya. Artinya, meminta maaf belum tentu menyelesaikan masalah secara tuntas.

Proses yang kurang tepat memungkinkan timbulnya masalah baru, yaitu menyakiti dirinya sendiri. Karena ketika seseorang membenci dan menyakiti sesamanya, sebenarnya dia sedang menyakiti dirinya sendiri. Mengingat pikiran layaknya cermin diri, ketika kita bercermin, maka yang tampak adalah cerminan diri sendiri.

Masalahnya, kadang ada drama menggemaskan yang menyertai saat orangtua meminta anak berani dan berbesar hati meminta maaf. “Cuma mengaku salah saja susah banget. Apalagi mau minta maaf, duh! Sampai harus saya paksa!” curhat bunda X yang hampir menyerah terhadap perilaku anaknya.

Jadi, mulai dari mana bisa mengajarkan anak tulus meminta maaf hingga ia terbiasa memperbaiki kesalahannya?  Berikut langkah-langkah yang bisa orangtua coba lakukan.

Ruang Nyaman untuk Jujur

Ketika berhadapan dengan ujian kehidupan seperti itu, sebelum mengendalikan perilaku anak yang dianggap sulit, orangtua perlu mengendalikan diri dalam kondisi tenang. Sebab emosi sejenis marah yang memantik munculnya kata atau sikap kasar, justru membuat anak tidak nyaman. Akibatnya, anak takut berbicara atau bersikap jujur apa adanya.

Agar tetap terkendali, orangtua bisa beristighfar sambil mengingat firman Allah SWT dalam at-Taghabun ayat 15, “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah pahala yang besar.”

Demikian Allah telah menjanjikan pahala yang besar bagi orangtua yang berupaya mendidik anaknya dengan tepat. Di mana, orangtua menyadari perilaku sulit itu bagian dari ujian yang perlu dihadapi dengan sabar.

Dengan kepala dingin, orangtua bisa menghadirkan ruang diskusi yang nyaman. Ruang inilah tempat anak berproses menumbuh-kembangkan kesadaran diri, termasuk kesalahan yang telah ia perbuat. Sehingga anak memahami mengapa dirinya perlu meminta maaf.

Mengingat, wujud ketulusan berakar pada sikap suka rela, maka kesadaran dan pemahaman tersebut mutlak hadir dalam diri anak. Jadi tak ada lagi cerita anak meminta maaf hanya karena terpaksa, supaya tidak dimarahi orangtua terus-menerus dan supaya masalahnya cepat selesai saat itu juga.

Pentingnya Memperbaiki Hubungan

Kesalahan yang disengaja maupun tidak, memungkinkan timbul keretakan pada hubungan sosial. Salah satu tujuan meminta maaf ialah berupaya merekatkan kembali hubungan yang hampir, sedang, atau sudah terlanjur retak itu.

Namun, anak juga perlu memahami, tidak semua hal dalam kehidupan ini bisa kita atur dan ubah murni hanya dengan usaha kita saja. Bagaimanapun, semua bisa terjadi jika Allah SWT berkehendak alias mengizinkannya.

Dimaafkan atau tidak, itu di luar kendali diri kita sebagai manusia biasa yang berbuat khilaf. Bagaimanapun respon yang akan anak terima, dorong anak tetap menjalankan kewajibannya sebagai Muslim yang berkewajiban menjaga tali silaturahmi tetap terjalin.

Sebagai orangtua yang mengemban amanah mendidik anak, rasanya perlu terlebih dahulu membantu anak memahami pentingnya memperbaiki hubungan. Langkah ini bisa dimulai dengan mengungkap fakta yang terjadi seobjektif mungkin. Orangtua bisa mengatakan, “Bunda lihat waktu kakak lagi main, kakak memukul adik seperti ini.”

Dalam prosesnya, langkah ini juga membuat orangtua maupun anak terbiasa bertabayyun. Tak asal gegabah menuduh secara sepihak, tapi menggali data kejadian sebenarnya agar tepat mengambil langkah.

Pemilihan kata yang mendeskripsikan fakta juga perlu dipertimbangkan agar tidak terkesan memojokkan atau menyalahkan anak. Karena yang terpenting, anak menyadari kesalahannya secara tepat.

Tumbuhkan Empati dan Berani

Untuk memperkuat kesukarelaan anak ketika meminta maaf, orangtua juga perlu mengajak ia menyadari dampak perilakunya terhadap orang lain. Hal ini sekaligus bisa melatih anak menumbuhkan empatinya.

Jika anak belum memahami dampak kekhilafannya, orangtua bisa membantu menjelaskan seperti, “Adik kaget dan kesakitan. Lihat, dia sekarang sedih.”

Tentu pembentukan dan pembiasaan perilaku merupakan proses. Sehingga memerlukan pengulangan beberapa kali, waktu panjang-pendeknya pun bergantung pada seberapa lingkungan terdekat konsisten mendukungnya.

Pada proses melatihnya, guna mempertahankan sikap baik yang muncul, orangtua bisa mengapresiasi secukupnya. Juga membantu seperlunya. Misal anak belum berani meminta maaf, orangtua bisa menemaninya. Mendiskusikan kemungkinan yang membuatnya takut meminta maaf akan sangat membantu anak mengurai ketakutannya.

Orangtua juga bisa membantu anak memahami, manusia dan kesalahan begitu dekat. Tak ada manusia yang tidak berbuat kesalahan. Sebagai manusia biasa yang rendah hati menerima dirinya yang tak akan luput dari kesalahan, maka langkah meminta maaf bisa merobohkan dinding kesombongan diri.

Di samping itu, juga tidak perlu merasa rendah diri ketika Allah menakdirkan kita berada pada posisi perlu meminta maaf. Karena justru dengan itu, sebagai manusia kita akan berkesempatan sedikit melihat bagaimana hadirnya keteladanan sifat Allah SWT yang Maha Pemaaf pada hambaNya.

Sedikit. Karena sebagaimana ketulusan meminta maaf, anak juga perlu memahami ketulusan memaafkan hanya masing-masing individu yang mampu mengukurnya. Bahkan kadang manusia dewasa pun bingung terkait seberapa tulus ia telah memaafkan kesalahan orang lain.

Konsekuensi Logis

Kemudian, harapannya tak berhenti pada mengucap permintaan maaf saja. Tetap ada konsekuensi logis yang perlu anak jalani atas kesalahannya. Sebagai orangtua, kita bisa membantu anak memahami konsekuensi logis itu.

Dukung anak berpikir dengan menanyakan, bagaimana dirinya bisa memperbaiki situasi itu setelah meminta maaf. Jika anak belum memiliki ide, orangtua bisa membantu dengan mengarahkan anak menanyakan kepada orang yang telah dia sakiti.

Misalnya, “Jadi apa yang bisa kamu lakukan? Coba tanya adik, gimana biar dia merasa lebih baik setelah kamu pukul tadi.”

Lebih jauh, untuk mengantisipasi munculnya tindakan kesalahan serupa di lain waktu, orangtua bisa mengajak anak berpikir, apa yang bisa dia lakukan. Misal, “Lain kali, gimana cara main sama adik yang aman?”

Jika sepanjang hidupnya telah otomatis tertanam kesadaran dan keberanian tulus meminta maaf, maka permintaan maaf pada momentum Lebaran sebenarnya hanya berlaku untuk kesalahan yang tidak disadari saja. (*)

Editor Mohammad Nurfatoni


Category: News