Dari kiri: Rei Rosyaila Roxanne Rosyadi, Pudji Hari, dan Syaif Ali Agung Prayoga (Istimewa/PWMU.CO)

Kunjungan Museum Mpu Tantular Antarkan Siswa Berlian Raih Penghargaan Internasional; Liputan Kontributor PWMU.CO Gresik Sayyidah Nuriyah.

PWMU.CO – Gagal dua kali tak hentikan langkah dua siswa Berlian School terus mencoba melukis dan kembali ikut berkompetisi di ajang internasional The 50th International Children’s Exhibition of Fine Arts Lidice (ICEFA Lidice) 2022. Berkat kegigihan keduanya, tahun ini mereka berhasil meraih penghargaan Honourable Mention dari

Nur Laila—ibunda Rei Rosyaila Roxanne Rosyadi—pun mengucap terima kasih atas bimbingan para guru dan sekolah. “Dukungan dari sekolah banyak membantu,” ungkap istri Didin Rosyadi SKom itu.

Kepada anaknya yang hobi menggambar sejak TK itu, Bunda Laila—panggilan akrabnya—menanamkan, “Yang terpenting kalau ada kesempatan coba terus saja, tidak putus asa.”

Untuk menghasilkan karya seni apik itu, ternyata Roxanne yang kini duduk di kelas III SD Muhammadiyah 2 GKB Gresik (Berlian School) itu membutuhkan waktu dua hari dengan memanfaatkan krayon, pengerik, dan spidol dalam prosesnya. Rasa lelah pun dia abaikan karena waktu pengumpulan sudah di depan mata.

“Semangat, Nak, sudah deadline,” motivasi bundanya usai mendapat alarm dari pembina ekstrakurikuler melukis Drs Pudji Hari bahwa hari itu sudah terakhir pengumpulan karya.

Buah Manis Kunjungan Museum

Berbekal pengalaman kunjungan langsung ke museum https://pwmu.co/221350/12/26/kunjungi-museum-mpu-tantular-siswa-berlian-melukis-on-the-spot/amp/ dan memperkaya wawasan dari Internet, Roxanne berburu ide untuk dia tuangkan ke lukisan. “Ayo, Nak, menggambar lagi! Ditambah apa yang kamu lihat dari museum kemarin,” tambah Laila saat melihat Roxanne mulai goyah.

Sang bunda yang berdarah seni itu memang telaten mendampinginya. “Saya kasih referensi mewarnainya seperti ini, ini, ini,” ujarnya sambil memperlihatkan beberapa alternatif contoh warna benda-benda di museum.

Tak dia sangka, ternyata Roxanne dan Syaif Ali Agung Prayoga selesai berbarengan. “Saat kami setor, ternyata Yoga juga baru mengumpulkan,” ujarnya lega.

Lain halnya dengan Yoga, sapaan Syaif Ali Agung Prayoga. Teman sekelas Roxanne yang lukisannya juga lolos di pameran tingkat internasional itu, selain mendapat inspirasi dari kunjungan ke Museum Mpu Tantular, juga menggali inspirasi dari sampul buku Bahasa Jawa.

“Dari buku Bahasa Jawa wayangnya dan gamelan-gamelan itu dari Museum Mpu Tantular,” terang Sri Bidayah, sang bunda.

Sri Bidayah masih ingat saat hendak berangkat kunjungan ke museum Yoga dalam kondisi kurang fit. “Tapi ingin sekali ikut, malamnya panas dan batuk, Alhamdulillah paginya sembuh,” kenangnya.

Langganan Juara

Ternyata, prestasi internasional ini bukan penghargaan pertama bagi Yoga. “Yoga sejak PAUD sudah sering juara,” ungkap Sri Bidayah. Istri Ali Kuswito itu mengungkap, bahkan Yoga sejak TK sudah menetapkan target, “Kalau lulus TK, aku harus sudah dapat 40 piala!”

Sejak TK, Yoga melatih potensi seni lukisnya bersama Chivenigen Ceaser Cynglung (baca Enam :Pelajar Muhammadiyah Gresik Terima Penghargaan dari Dubes Ceko) di sanggar lukis yang sama. Ketika diterima di sekolah dasar yang sama, Yoga sangat ingin mewakili Berlian School seperti temannya: Chiven.

Dengan target dan motivasi itu, kini Yoga telah memgantongi 60 piala semenjak sekolah di Berlian School. Meski piala terbanyak menunjukkan prestasinya di bidang menggambar, tapi Yoga juga sukses meraih piala di bidang Matematika dan fotogenik.

Yoga pun mematuhi pesan Almarhum Heri—salah satu mentor lukisnya—harus pintar Matematika. “Kalau bisa menggambar, juga harus bisa menghitung. Nanti kalau jadi arsitek, jadi arsitek yang mahir, bukan hanya bisa menggambar,” tuturnya.

Sri Bidayah menduga, darah seni yang mengalir pada Yoga berasal dari sang kakek Sumantri. Meski bukan seorang pelukis, tapi Sumantri menurutnya sangat kreatif. Selamat Roxanne dan Yoga! (*)

Editor Mohammad Nurfatoni


Category: News