Pojok Baca Kelas III Jepang (istimewa/PWMU.CO)

Antusiasme Wali Siswa Pesulap Zona Literasi Berlian School, Liputan Kontributor PWMU.CO Gresik Fatma Hajar Islamiyah.

PWMU.CO – Kolaborasi dalam dunia pendidikan adalah keharusan. Utamanya, antara sekolah dengan wali siswa. Jelang Milad ke-13, SD Muhammadiyah 2 GKB Gresik (Berlian School) mewujudkannya melalui gelaran Lomba Zona Literasi.

Tak cukup dengan menggerakkan siswa agar gemar dan semangat berliterasi, sekolah yang berlokasi di Jalan Berlian VIII Nomor 2 Pondok Permata Suci itu juga tak segan mengajak wali siswanya aktif menyalakan literasi selama sekitar 3,5 pekan (31/3/22-18/4/22).

Bekerja sama dengan Ikatan Wali Murid (Ikwam), Berlian School sukses menggerakkan seluruh koordinator kelas (Korlas). Mereka bergotong-royong menyulap Pojok Baca menjadi Zona Literasi yang indah.

Antusiasme Wali Siswa

Gayung bersambut, para Korlas pun antusias menggarapnya. Dengan mengajak para wali siswa lainnya, mereka menyulap masing-masing kelas menjadi cantik dengan hadirnya Zona Literasi.

Antusiasme itu tampak dari keseriusan mereka menata secara detail bagian-bagian dari Zona Literasi. Mulai dari pelabelan buku-buku koleksinya, mengumpulkan pernak-pernik yang selaras nama kelas, menatanya dengan apik sehingga berpadu indah, hingga melukis dinding Zona Literasi.

Seperti yang dilakukan wali siswa kelas VI Himalaya, mengusung prinsip minimalis dalam zona literasinya. Konsep mereka akhirnya memantik salah satu juri berkomentar.

Menurut Nency Septriyana SKM—Founder Perpustakaan Rumah Pelangi—konsep pegunungan Himalaya yang menjadi latar salah satu zona literasi memunculkan kesan estetik dan minimalis.

“Bisa bayangkan, kan, para emak (ibu-ibu) mengecat tembok ini?” ungkap Nency di grup WhatsApp Rumah Pelangi Gresik sambil mengirim potretnya, Selasa (19/4/22).

Nency menegaskan, cita-cita itu tercapai berkat kerja sama semua pihak. “Apresiasi setinggi-tingginya untuk SD Muhammadiyah 2 GKB sebagai penyelenggara dan tentu para wali murid yang ruarrr biasah (lebih dari luar biasa) antusias dan all out!

Totalitas wali siswa menghias Zona Literasi (Istimewa/PWMU.CO)

Totalitas Tak Terbatas

Kedua puluh empat kelas yang masing-masing Korlas komandoi itu sukses menggerakkan wali siswa bergotong royong mewujudkan Zona Literasi. Tak hanya siang usai siswa pulang sekolah, tapi juga ada tim yang mengerjakan pada malam harinya. Tak hanya pada hari efektif sekolah, tapi juga pada akhir pekan.

Semangat wali siswa selama proses perlombaan ini sukses membuat semua wali kelas takjub. Seperti yang disampaikan Wali Kelas II An-Nahl Dina Auliyah SPd, ayah maupun bunda kompak menyulap  Zona Literasi kelas anaknya.

“Hampir setiap hari pasti ada mama yang ke sekolah. Mama-mama ada yang sampai mengerjakan semalam, malah ada bapak-bapak juga ikutan,” ungkapnya setelah mendapati cerita wali siswanya.

Begitupula dengan kekompakan kelas di sampingnya, II an-Naml. Meski kelas yang lain ramai mengerjakan di kelas, para bunda kelas ini justru janjian mengerjakan pernak-pernik di rumah salah satu siswa.

Namun ketika menjelang hari-H penjurian, mereka rela melembur pengerjaan di sekolah. “Kata Mama Azalea, beliau-beliau masih di sekolah sampai setengah 11,” ungkap wali kelas II an-Naml Zaitun Nailiyah SPsi.

Inilah wujud dukungan wali siswa terhadap proses pembelajaran di sekolah yang tidak hanya berfokus pada akademik, tapi juga memperhatikan keluasan pengetahuan dan kenyamanan anak-anak dalam belajar.

Eratkan Wali Siswa

Menurut Fitriyah Rahayu Arinta—bunda dari Maryam Nakumi Al ‘Afiyah kelas I Al-Aziz—kesan pengerjaan Zona Literasi sangat membekas. Menurutnya, selama prosesnya tidak sekadar membuat saja. Di sela-sela itu, ada kolaborasi dan kerja sama yang dapat meningkatkan kedekatan antarwali siswa.

“Alhamdulillah sangat berkesan sekali karena bekerja bareng bunda-bunda wali siswa. Semakin kenal dengan Korlas yang lain. Meskipun tidak semua ikut membantu tetapi tidak menyurutkan semangat kami,” ungkap Korlas I Al-Aziz itu.

Bahkan, kata dia, hal paling menarik yang terjadi adalah saat harus menjadi bunda yang tangguh. Mengingat, di salah satu prosesnya harus memanjat untuk memasang salah satu pernak-pernik hiasan. Tetapi, lanjutnya, itu malah membuat mereka saling menguatkan.

Ada hikmah dari setiap peristiwa. Termasuk ketika ikut lomba Zona Literasi Berlian School. Seperti yang disampaikan Fitri—panggilan akrabnya—sudah sepuluh bulan anak-anak belajar dalam satu kelas yang sama. Tapi kedekatan antarbunda hanya sebatas menyapa saat menjemput atau mengantar di depan gerbang sekolah.

“Lomba zona literasi ini menjadi momen perekat kelompok di antara kami!” ungkapnya. (*)

Editor Mohammad Nurfatoni/SN


Category: News