Aditama S PdI saat memberikan materi virus merah jambu pada peserta PKDA kelas V. (Viki Safitri/PWMU.CO)

Virus Merah Jambu Bikin Darul Arqam Berlian Seru, liputan Viki Safitri kontributor PWMU.CO Gresik.

PWMU.CO – Materi virus merah jambu dibahas di Pesantren Kilat Darul Aqram (PKAD) pekan kedua, Senin (18/4/22).  “Apa itu virus merah jambu?” adalah pertanyaan awal yang diajukan Aditama SPdI ke seluruh siswa kelas V SD Muhammadiyah 2 GKB (Berlian School) Gresik.

Sebelum menyampaikan materi, Aditama ingin tahu sejauh mana pengetahuan siswa tentang virus merah jambu. Ternyata, responnya di luar ekspektasi. Hampir seluruh siswa belum tahu tentang istilah virus merah jambu.

“Bayangan Ustadz Adi tadi itu setelah menyebut ’virus merah jambu’ anak-anak akan heboh. Ustadz Adi bersyukur lega ternyata anak-anak tidak ada yang kena virus. (Tapi) Ustadz Adi khawatir kalau dikasih tahu tentang virus merah jambu nanti anak-anak malah jadi kena virus itu semua,” kata Adi, sapaan akrab Aditama, dengan nada bercanda.

Dengan polosnya Ridho Khallafin Sabiqun Hinam, siswa kelas V Faqih Usman, berkomentar, “Jangan dikasih tahu Ustadz, takut nanti saya kena.”

Adi pun tertawa mendengar jawaban lugu siswa yang akrab dipanggil Abiq itu.

Virus Merah Jambu

Aditama menyampaikan materi virus merah jambu supaya siswa bisa berhati-hati agar tidak terkena virus ini. Terlebih kelas V adalah usia seorang anak memasuki masa pubertas—kondisi di mana terjadinya perubahan fisik maupun psikis menjadi lebih dewasa dan telah mampu melakukan reproduksi seksual.

Salah satu tanda pada perubahan psikis antara lain tumbuhnya perasaan tertarik dengan lawan jenis. “Inilah yang disebut sebagai virus merah jambu atau jatuh cinta,” terang Adi.

“Oalaah…” jawab siswa kelas V serentak.

“Ini kan bulan puasa, harus jujur siapa yang pernah jatuh cinta coba angkat tangan? tanya Adi lagi kepada peserta PKDA. Seluruh peserta bersorak riuh mendengar pertanyaan Adi.

“Sebentar, kira-kira jatuh cinta itu dosa apa endak?” Adi kembali mengajukan stimulus kepada peserta. Sebagian siswa menjawab dosa, sebagian lagi menjawab tidak.

“Jatuh cinta hukum awalnya tidak berdosa,” tutur Adi.

“Lho.. tuh kan..” spontan peserta PKDA riuh kembali.

Jatuh cinta itu hukumnya mubah atau boleh dilakukan, tambahnya, tetapi boleh jadi bisa menjadi haram, boleh juga bisa menjadi halal, bahkan boleh jadi menjadi wajib.

Jatuh cinta hukumnya wajib misalkan jatuh cinta kepada Allah SWT, Nabi Muhammad SAW, dan orangtua kita. “Namun, bagaimana hukumnya jatuh cinta pada lawan jenis?” tanya Adi.

Ridho Khallafin Sabiqun Hinam (V-Faqih Usman) saat menjawab pertanyaan Aditama. (Viki Safitri/PWMU.CO)

Hukum Jatuh Cinta pada Lawan Jenis Menurut Islam

Aditama mengatakan, jatuh cinta atau menyukai sesuatu pada dasarnya diperbolehkan, hanya saja jatuh cinta tersebut harus mengarah pada kebaikan.

Godaan terberat pada masa remaja adalah munculnya rasa ketertarikan pada lawan jenis. Sebenarnya rasa tertarik ini adalah fitrah, tetapi jika kita tidak bisa memanage perasaan tersebut, maka bisa menjadi mala petaka yang besar, jelas Adi.

“Menurut kamu wanita cantik itu yang seperti apa sih?” pertanyaan Adi yang membuat peserta kompak mengatakan ‘cieeee’.

“Yang berhijab, rajin shalat dan ngajinya bagus,” jawab Zubair Syafi, siswa kelas V-Buya Hamka.

“Masyaallah.. oke sekarang yang perempuan, menurutmu laki-laki ganteng itu seperti apa ?” tanya Adi lagi.

Kali ini Nana Syabila Eka (V-Mas Mansyur) menjawab, “Laki-laki yang Islam, rajin shalat, dan ngajinya bagus.”

Mendengar jawaban itu Adi menyampaikan sebuah hadist Rasulullah SAW: “Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu, kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR Muslim).

“Dari hadits ini kita dapat memperoleh informasi kalau setiap mata, telinga, lisan, tangan dan semua organ tubuh kita berpeluang untuk zina. Zina itu melihat, menyaksikan atau melakukan sesuatu yang haram, yang tidak dihalalkan,” terang Ustadz Adi.

Bagaimana Jatuh Cinta dalam Islam?

Adi menerangkan, jatuh cinta itu kepada Allah SWT, Rasulullah SAW, orangtua, dan jatuh cinta dalam tanda kutip yaitu dalam hal kebaikan. Misalkan seperti jawaban kalian tadi “Ustadz aku suka sama anak itu karena dia pinter ngajinya.”

“Kalau yang disukai itu ngajinya bagus, insyaAllah masih selamat,” tutur Adi.

Di akhir acara, Adi menceritakan sebuah kisah. Ada laki-laki dan perempuan. Si laki-laki bertanya kepada perempuan: “Kenapa kamu berhijab? Padahal kamu lebih cantik jika tidak memakai hijab.”

Kemudian perempuan menjawabnya dengan cara yang sederhana. Ia melempar dua permen ke pasir. Permen pertama dalam kondisi terbungkus, sedangkan permen kedua dalam kondisi tidak terbungkus.

Si perempuan menyuruh laki-laki untuk mengambil permen pertama dan memakannya. Si laki-laki itupun melakukan apa yang diperintahkan si perempuan.

“Bagaimana? Enak?” tanya perempuan.

“Enak,” jawab si laki-laki.

Kemudian si perempuan menyuruh laki-laki untuk mengambil permen kedua dan memakannya. Tetapi si laki-laki menolak, permen itu sudah kotor terkena pasir karena tidak terbungkus.

“Permen itu sama halnya seperti seorang wanita. Jika seorang wanita mampu menjaga aurat dengan memakai pakaian yang tertutup dan berhijab, insyaallah akan menjadi perempuan yang lebih cantik dan terjaga,” jelas Adi.

“Semoga kita semua selalu ditunjukkan Allah SWT bahwa yang bathil itu bathil, yang haq adalah hak dan kita semua bisa selalu istikamah dalam menjalankan kebaikan,” doanya. (*)

Editor Mohammad Nurfatoni


Category: News