Emir Badi Al Hakam dan kelompoknya berusaha menyusun korek api di atas gelas (Sayyidah Nuriyah/PWMU.CO)

Kesabaran Siswa Berlian Ini Teruji saat Menyusun Korek Api, Liputan Kontributor PWMU.CO Gresik Sayyidah Nuriyah.

PWMU.CO – Pesantren Kilat Darul Arqam (PKDA) tahap I di SD Muhammadiyah 2 GKB (Berlian School) Gresik berlangsung secara bergantian dalam sepekan (4-8/4/22). Rabu (6/4/22) sore, giliran kelas I yang terjadwal mengikuti PKDA di sekolah.

Usai berdoa dan tadarus bersama, wali kelas membagi siswa menjadi lima kelompok. Meski belum tahu permainan apa yang hendak mereka mainkan, seluruh siswa langsung bersorak senang ketika tahu mereka akan bermain.

Usai terbentuk kelompok, Ellies Rahmawati SPd di kelas I al-Aziz membagikan satu gelas plastik dan dua kotak korek api. Dia lantas menyampaikan instruksi permainan dan menunjukkan contohnya.

“Kita akan menyusun batang korek api di atas gelas seperti ini, ayo coba susun dulu di tepi atasnya,” ajak Ellis, sapaan akrabnya. Dia juga mengingatkan untuk bermain dengan aman, “Tidak menggesek korek ke penyala, tidak dinyalakan ya!”

Kompak Bergantian

Jari-jari mungil mereka langsung menjumput sebatang korek dan meletakkannya di atas gelas dengan hati-hati. Tapi kenyataannya tak semudah yang mereka pikirkan.

Ada siswa yang baru meletakkan koreknya, alih-alih koreknya bertengger di atas gelas, tapi justru terperosok ke dalamnya. “Lho jatuh, pegangnya gini,” ujar Muhammad Emir Badi Al Hakam sambil menunjukkan cara memegang batang korek di kedua ujungnya.

Dengan ekstrasemangat, teman-teman sekelompoknya kemudian hampir berebut meletakkan korek api itu. Emir pun memandu kelompoknya. “Pelan-pelan, gantian aja,” ujarnya.

Muhammad Aufa Athallah langsung menyeletuk, “Aku habis Emir ya!” Karena tak ada lagi yang mengajukan diri, Emir pun menentukan urutan teman-teman selanjutnya. Dua teman lainnya sepakat dan mereka tertib menunggu giliran. Ellis mengapresiasi kekompakan tim mereka, “Sip, bergantian ya!”

Akhirnya, kelompok lain ikut menentukan urutan. “Ayo semua ikut mencoba, beri kesempatan temannya,” imbau Elis ke kelompok lain.

Sebagian siswa bersorak senang ketika waktu permainan habis (Sayyidah Nuriyah/PWMU.CO)

Berlatih Sabar

Selang beberapa menit kemudian, beragam celetukan gemas juga terdengar ketika tatanan batang korek api yang hampir melingkar penuh di tepi atas gelas itu lagi-lagi roboh. “Gimana sih, dari tadi jatuh, susah, jatuh terus nih,” celetuk beberapa siswa bersahutan.

Sebabnya, tersenggol jemari teman yang hampir menambah sebatang korek lagi. Proses menyusun pun berulang kembali dari awal. Antara kesal dan penasaran, tapi mereka tetap fokus ingin menuntaskan tantangan sang guru.

Sang wali kelas pun kembali memotivasi, “Anak-anak berpuasa ya? Ini ujian berpuasa, anak-anak latihan sabar. Ayo semangat!”

Dia lantas mengajak untuk menarik napas panjang dan menepuk dada sambil mengucap sabar. Aisya Jasmine spontan mempraktikkannya. “Ya, sabar, sabar,” ucapnya sambil menepuk dada. Perempuan yang akrab disapa Ais itu pun pasrah melihat sebagian tumpukan koreknya runtuh.

Karena berulang kali gagal menyusun di atas gelas, ada pula siswa yang akhirnya berinisiatif menyusun di atas lantai. Muhammad Rafa Azka Zafian misalnya. Dia antusias menyusun korek api hingga tersusun dua tumpuk. “Rafa bisa!” ujarnya riang.

Ingin Berbagi Takjil

Sambil menunggu giliran meletakkan batang korek api di atas gelas, pikiran Maryam Nakumi Al’afiyah yang biasa dipanggil Ami itu mengelana ke imaji berbagi takjil. Dia tak tahan mengungkap isi hatinya. “Ustadzah, kapan kita bagi-bagi takjil? Aku mau bagi takjil,” ucapnya antusias.

Sementara itu, Muhammad Atha R Admaja mengenang pengalamannya saat berbagi takjil. “Ayo ustadzah, kita bagi-bagi takjil. Dulu waktu TK sama Ami juga pernah bagi takjil,” ungkapnya.

Usai menerangkan kegiatan berbagi takjil berlangsung setelah permainan itu, senyum mereka mengembang dan mereka kembali fokus mencapai targetnya: menyusun korek api setinggi-tingginya. Sebelumnya, mereka memang diimbau membawa snack untuk berbagi ke masyarakat sekitar sekolah.

Setelah waktu berjalan sekitar 20 menit, Ellis menghentikan permainan dengan menghitung 1-5. Dia menghibur para siswa dengan menekankan, yang terpenting mereka sudah berusaha sabar dan terus mencoba menyusunnya bersama-sama.

Banyak Manfaat

Koordinator Pesantren Kilat Darul Arqam Muhammad Hariyadi MPd mengungkap, ada banyak manfaat yang siswa peroleh dari permainan menyusun korek api. “Melatih kesabaran, kekompakan, perencanaan, dan strategi memecahkan masalah,” ujarnya.

Dia juga menerangkan, permainan itu mengajarkan siswa agar berani mencoba. “Kalau gagal, harus mencoba lagi untuk meraih sukses,” imbuhnya.

Tak hanya itu, harapannya dapat menumbuhkan kepercayaan pada sesama teman dan keinginan untuk membantu mencapai tujuan bersama, yaitu menyusun korek api setinggi-tingginya. (*)


Category: News