Windi Wahyuli—womanpreneur pemilik Omah Windi—ibunda Satria Yusuf Pradhana Al Ghifari kelas II an-Nahl (Sayyidah Nuriyah/PWMU.CO)

Kreativitas Sate Jasuke Ceriakan Kelas Daring Berlian, liputan kontributor PWMU.CO Gresik Sayyidah Nuriyah.

PWMU.CO – “Biasanya, Ustadz Adi menyampaikan, guru kalian di sekolah adalah orangtua kalian. Sekarang Ustadz Adi balik, orangtua kalian di rumah juga guru kalian. Siapa pun yang memberi kebaikan di sekitar kita, jadikan sebagai guru.”

Demikian penuturan Wakil Kepala Sekolah Bidang Pembiasaan dan Pembinaan Karakter Aditama SPdI ketika membuka program My Parent My Teacher di SD Muhammadiyah 2 GKB Gresik (Berlian School) via Zoom, Senin (14/2/22).

Ustadz Adi—panggilan akrabnya—juga mengapresiasi semangat seluruh siswa kelas II yang hadir. “Pagi ini sudah di depan kamera laptop atau HP masing-masing, tidak dalam rangka bermain game, tidak untuk Tiktokan dan sebagainya, tapi dalam rangka belajar,” imbuhnya.

Kemudian, untuk menjaga semangat siswa, dia juga menyampaikan seluruh wali kelas hadir menemani mereka secara daring dalam kegiatan bertema ‘We Love Healthy Food’ tersebut.

Siap Berpraktik

Sementara itu, pancaran sorotan layar Zoom yang diperbesar pada dinding salah satu ruang studio Berlian School menampilkan antusiasme para siswa kelas II yang fokus menyimak. Dengan berseragam merah putih rapi, semakin mencerminkan kesiapan diri mereka bersekolah daring.

Di sekitar mereka, juga sebagian tampak semangkuk jagung manis rebus yang sudah diserut, susu kental manis (SKM) putih, juga keju cheddar yang sudah diparut. Kelas daring pagi itu memang spesial. Para siswa kelas II diajak belajar membuat Jasuke (akronim bahan dasarnya: jagung, susu, keju) dari rumahnya masing-masing.

Tak tanggung-tanggung, mereka langsung dipandu oleh Windi Wahyuli—womanpreneur pemilik Omah Windi—ibunda Satria Yusuf Pradhana Al Ghifari kelas II an-Nahl.  Sebelum para siswa praktik, Bunda Windi—sapaannya—juga mendemokan cara membuat Jasuke yang mudah.

“Di kala pandemi ini, alangkah baiknya kita membuat jajanan sendiri di rumah,” ujarnya. Dia pun mengajak membuat jajan sehat Jasuke yang bahannya mudah didapat.

Bunda Windi menunjukkan bahan-bahan Jasuke saat mendemokan pembuatannya. Kreativitas Sate Jasuke Ceriakan Kelas Daring Berlian (Sayyidah Nuriyah/PWMU.CO)

Kreativitas Sate Jasuke

Para siswa segera mengikuti panduan Bunda Windi. Saat ada siswa yang masih memarut keju, siswa lain ada yang sudah mencampur bahannya. Termasuk, menuangkan susu kental manis dan mengaduk dengan jagungnya.

Ternyata, ada pula siswa yang mampu meracik sangat cepat. Muhammad Imaduddin Dzikki Afifi tampak menyendok Jasuke ke mulutnya. “Lho sudah ada yang makan juga,” celetuk pemandu acara Nur Hakiky SPd.

Beberapa saat kemudian, Mochammad Zakir Maulana mengenalkan kreasi Jasukenya. “Ustadzah, resep baru, sate jasuke!” ujarnya sambil mengacungkan sate itu ke depan kamera. Zakir menusuk biji-biji jagung yang berlumur keju dan SKM ke tusuk sate.

Kreativitas Zakir mengundang keingintahuan teman-temannya. Sebagian siswa yang mulanya fokus meracik Jasuke, jadi mengalihkan fokusnya pada sate Zakir. Mereka mendekatkan wajah ke layar sambil menatap kagum.

Ustadzah Kiky—panggilannya—spontan mengapresiasi kreativitas Zakir dan memantik siswa lain menyajikan Jasuke sesuai selera masing-masing.

Siswa kelas II berkreasi meracik Jasuke dengan panduan Bunda Windi (Sayyidah Nuriyah/PWMU.CO)

Kesehatan Makanan

Sambil menikmati jasuke buatan mereka sendiri, para siswa lanjut menyimak penjelasan Windi tentang kriteria makanan sehat. Dia juga memaparkan manfaat jagung, susu, dan keju.

Manfaat jagung di antaranya menjaga kesehatan mata, baik untuk kesehatan pencernaan, dan mengandung asam folat untuk meningkatkan daya ingat. Sedangkan keju salah satunya berguna menjaga kesehatan tulang dan gigi.

Siswa kelas II al-Jamal Muhammad Ervito Paramaditya Santoso bertanya, “Ustadzah, jagung yang dijual di jalanan itu sehat apa nggak?”

Kalau di jual di luar, kata Windi, kita tidak bisa menjamin kebersihannya. “Sudah cuci tangan atau belum, tempatnya dicuci atau nggak, kita nggak tahu,” jelas dia.

Dia menegaskan, “Kalau kita buat sendiri, bisa menjamin kebersihannya, jadi pasti sehat!”

“Anak-anak beli di luar harga 5 ribu rupiah. Kalau membuat sendiri di rumah, bisa mendapat jumlah yang lebih banyak. Bisa puas makannya, puas makan bersama sekeluarga di rumah,” terangnya.

Dalam kesempatan itu, Ustadz Adi mengingatkan, “Makanan sehat untuk hati dan pikiran tak kalah penting. Yaitu membaca al-Quran, shalat lima waktu, berdoa, diskusi dengan kakak dan orangtua di rumah.”

Pemandu acara Nur Hakiky SPd juga berpesan, “Makanan sehat ampuh menyembuhkan penyakit. Tapi jangan menunggu sakit, baru mulai pola hidup sehat. Budayakan hidup sehat untuk mencegah segala penyakit!” (*)

Editor Mohammad Nurfatoni


Category: News