dr Aisah Dahlan (kiri) bersama moderator Zaitun Nailiyah SPsi (Sayyidah Nuriyah/PWMU.CO)

Pahami Gaya Belajar Anak Era Digital, laporan Sayyidah Nuriyah Kontributor PWMU.CO Gresik.

PWMU.CO – Dokter dan praktisi neuroparenting skill dr Aisah Dahlan CHt CMNLP mengajak orangtua untuk mengajarkan ilmu sesuai kondisi pengetahuan anak dan apa yang anak sukai, termasuk gadget atau gawai.

Dia mengutip sabda Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Bukhari, “Katakanlah kepada manusia sesuai dengan apa yang mereka ketahui dan sukai, serta tinggalkanlah apa yang tidak mereka ketahui dan tidak mereka sukai. Apakah kamu ingin Allah dan Rasul-Nya didustakan?”

Aisah Dahlan mencontohkan, anak-anak tidak tahu nikmatnya membaca buku. Yang anak-anak tahu dan suka adalah gawai. Kalau orangtua mendekati dengan apa yang tidak anak sukai, lanjutnya, anak malah menolak. “Ini lebih bahaya!” terangnya.

Maka, orangtua bisa mengenalkan ayat-ayat al-Quran atau kisah Sirah Nabawi melalui gawai (yang anak suka dan tahu).

Gaya Belajar di Era Digital

Dalam kajian Islamic Parenting Ikwam Berlian School (18/1/22) via Zoom itu, dr Aisah juga mengurai gaya belajar anak di era digital. Pertama, anak suka format audio visual. Kedua, sangat bergantung pada teknologi. Kemudian, mereka senang memahami contoh konkret.

Selain itu, anak-anak kini merupakan generasi yang kritis saat berpendapat. Mereka suka jujur alias tidak memendam gagasannya. Dia mengungkap, anak binaannya terkena narkoba atau terpengaruh LGBTQ karena keluarganya melarang mereka berpendapat. “Sementara di komunitas itu boleh berpendapat!”

dr Aisah menyarankan agar orangtua bijaksana menjadi sahabat anak

Menghadapi generasi gemar berpendapat itu, menurutnya, orangtua perlu mengajarkan cara berbicara yang benar, baik, dan pantas. Misal, orangtua sedang duduk, sedangkan anak bicara sambil berdiri, maka dr Aisah menganjurkan, “Ambil kursi dulu, Nak. Sini, duduk bicara sama mama.”

Baca Juga:  Impian Kedua Berlian School setelah Sekolahku Surgaku

Anak-anak sekarang juga menyenangi guru atau tutor yang bersahabat. “Anak-anak sekarang nggak tanya pelajaran, mereka lebih banyak cerita,” terangnya sambil mengonfirmasi kepada moderator Zaitun Nailiyah SPsi.

Lely—sapaan akrab Zaitun Nailiyah—langsung membenarkan. Kalau gadget tidak bisa menjadi sahabat anak, maka dr Aisah menekankan pentingnya peran guru atau tutor menjadi sahabat anak.

Gaya belajar terakhir yaitu gemar berinovasi. Maka, dr Aisah menyarankan agar orangtua bijaksana menjadi sahabat anak. “Di tengah ya. Tidak terlalu kolot, juga tidak terlalu kebablasan!” terangnya. (*)

Editor Mohammad Nurfatoni


Category: News