Siswa kelas III Jepang berlomba menguji pesawat luncur karetnya (Dini Noviana/PWMU.CO)

Science Project: Cara Asik Anak SD Eksperimen Sains, Laporan Kontributor Gresik: Sayyidah Nuriyah dan Waviq Amiqoh.

PWMU.CO – Dengan pendampingan wali kelas masing-masing, siswa kelas I sampai VI SD Muhammadiyah 2 GKB (Berlian School) Gresik serentak melakukan eksperimen sains. Secara berkelompok, mereka mengikuti langkah demi langkah di kelas maupun di luar kelas. Adapun bahan dan alat yang dibutuhkan sangat mudah didapat sehingga memudahkan aplikasi Science Project.

Siswa kelas VI diajak membuat ‘Mobil Jet’. Bahannya sederhana, yaitu botol plastik bekas, 4 tutup botol, tusuk sate, sedotan, baking soda, plastisin, dan selotip.

Percobaan sains ini ingin membuktikan reaksi kimia dari dua bahan asam dan basa, yaitu cuka dan soda. “Bila cuka dan soda dicampur dalam air, akan terbentuk gelembung-gelembung gas karbondioksida yang mengembang dan menekan,” terang Fikri.

Ilmu sains ini, lanjutnya, kita terapkan pada mainan mobil dari botol. “Botol diberi lubang kecil sehingga campuran tadi menekan air untuk keluar lubang itu dan memberi dorongan pada mobil jet,” tambahnya.

Dalam Science Project itu, Wali Kelas VI Fuji Siti Latifah SPd memberi pemahaman kepada siswa, percobaan memang ada yang berhasil dan ada yang tidak. “Berhasil atau tidak itu sudah biasa, namanya juga percobaan. Yang penting berani mencoba!” ujarnya.

Lalu ketika melihat sebagian siswanya takut terkena cipratan air atau tertabrak ‘mobil jet’ buatan mereka, Latifah menegaskan, “Itu adalah tantangan! Dengan mencoba itulah akan tahu berhasil atau tidaknya. Butuh keberanian.”

Berhasil 75 Persen

Kepada PWMU.CO (28/12/21), Latifah melaporkan, keberhasilan siswanya mencapai 75 persen. Ada mobil jet siswanya yang berjalan mundur dan memutar. “Anak-anak meletakkan cepat-cepat, kemungkinan anak-anak takut, ada yang (posisi mobilnya) berdiri sehingga (meluncurnya) memutar,” terangnya.

“Ada yang jebrot, itu sudah risiko. Dengan begitu, anak-anak tahu apa penyebab ketidakberhasilannya,” imbuhnya.

Dari beberapa kali percobaan itulah mereka menemukan, takaran cuka dan baking soda harus lebih banyak agar reaksinya cukup kuat hingga mencapai tutup dan mendorong mobil jet bergerak.

“Begitu cukanya dimasukkan, cukanya harus banyak. Kemudian (setelah) ditambahi soda, harus cepat kita tutup karena reaksinya itu sangat cepat,” tambahnya.

Maryam Nakumi Al Afiyah, salah satu siswa kelas I Al-Aziz mengamati kapal selam mini miliknya (Istimewa/PWMU.CO)

Bikin Kapal Selam Mini

Siswa kelas I tak kalah antusias membuat Kapal Selam Mini berbahan sedotan lipat yang diberi pemberat plastisin. ‘Kapal selam’ itu kemudian diletakkan dalam botol berisi air.

Ada siswa yang membuat dua kapal selam, yaitu Yasmine Viorista Azzahra dan Muhammad Dilbert Alaric. “Satunya buat adikku!” celetuknya.

Rijalul Fikri menerangkan, kapal selam itu membuktikan Hukum Archimedes. Yaitu peristiwa mengapung, melayang, dan tenggelam. “Saat botol yang berisi air ditekan, maka kapal selam mini melayang atau tenggelam. Bila tekanan dilepas, kapal selam akan naik mengapung,” lanjutnya.

Di tengah percobaan itu, ada beberapa siswa yang menggunting sedotannya tidak imbang sehingga kapal selamnya tenggelam. Mereka lantas bertanya dan meminta bantuan kepada wali kelas I al-Malik Saidah SPd. Saidah pun menerangkan kembali kalau panjang sedotannya harus sama.

Kemudian, menjelang pulang, saat Saidah menyarankan untuk menjemur plastisin jika kapal selamnya tenggelam, salah satu siswa spontan menunjukkan kapal selamnya yang masih berhasil melayang.

“Kalau ketika di rumah kapal selamnya tenggelam, nanti diambil plastisinnya, dijemur, ditempelkan lagi, ya!” tutur Saidah. Ananda Dirgam Haidar Arhab mengangkat botolnya dan semangat menunjukkan, “Punyaku sampai sekarang masih melayang ustadzah.”

Muhammad Rizky Irawan, salah satu siswa kelas IV Al-Jazari unjuk akrobat Segitiga Keseimbangan (Rijalul Fikri/PWMU.CO)

Ragam Science Project

Sebelumnya, Koordinator program Rijalul Fikri SSi merancang enam kegiatan eksperimen dengan ragam tingkat kesulitan menyesuaikan kemampuan berpikir siswa. Fikri menilai, keberhasilan Science Project dipengaruhi tingkat pemahaman siswa terhadap langkah kegiatan dan detail penjelasan contoh gurunya.

Di kelas II, siswa diajak membuat kompas sederhana dari jarum jahit yang ditusukkan pada potongan styrofoam. Jarum itu letakkan di atas air. Sebelumnya, siswa menggosok jarum dengan magnet. Dengan begitu, siswa bisa menentukan arah utara-selatan dan membuktikan teori magnet bumi.

Siswa kelas III membuat pesawat luncur karet. Peluncuran pesawat dari kertas lipat itu diuji dengan gaya dorong dari karet gelang. “Karet gelang punya gaya pegas sehingga bisa melontarkan pesawat kertas,” terang Fikri.

Siswa kelas IV membuat Segitiga Keseimbangan dari tusuk sate yang dibentuk segitiga dan diberi pemberat pada bagian kaki kanan dan kiri. Fikri menjelaskan, bagian tengah segitiga sebagai tempat tumpuan sehingga segitiga itu bisa berdiri dengan tegak meskipun ada gangguan.

Sedangkan siswa kelas IV, membuat kapal kincir stick es krim yang memanfaatkan gaya dorong karet berkincir. Kincir kapal terbuat dari stick es krim. Saat kincir diputar, maka karet akan memilin dan bila kincir dilepas, kincir akan berputar.

“Dalam percobaan, bila kapal kincir diletakkan di air, kapal kicir akan bergerak karena dorongan karet dan kincir,” ungkap Fikri.

Sebagian siswa kelas I al-Malik menunjukkan Kapal Selam Mini yang mengapung dan melayang (Saidah/PWMU.CO)

Project Based Learning Rutin

Sebenarnya, ini bukan eksperimen sains pertama yang siswa Berlian School coba. Siswa pernah membuat roket bersama Guru Tamu dari Spemdalas. Saat pembelajaran di kelas, siswa dan guru juga pernah bereksperimen sederhana, tapi tidak serentak dalam waktu yang sama seperti hari Jumat (24/12/21).

Wakil Kepala Sekolah bidang Pengembangan Pendidikan Farikha SPd mengungkap, rencananya Science Project akan rutin dilakukan setidaknya sebulan sekali. “Sebagai bagian dari project based learning sekolah di bidang sains,” terangnya.

Farikha berharap, program itu bisa memfasilitasi pengalaman menyenangkan untuk para siswa dalam aplikasi prinsip-prinsip ilmu sains. “Mereka dapat bermain, berkreasi, tetapi tetap dalam lingkup belajar,” ungkapnya. (*)

Editor Mohammad Nurfatoni


Category: News