Dr Karina Widowati MPH (kanan) saat memberikan materi pada gebyar aksi 10.10 (Tangkapan layar Waviq Amiqoh/PWMU.CO)

PWMU.CO – Tips Menjaga Gizi Seimbang dan Pola Makan Sehat. Pendidikan gizi di sekolah dan madrasah sehat disampaikan Dr Karina Widowati MPH pada Sharing Session Gebyar Aksi 10.10 SD Muhammadiyah 2 GKB Gresik (Berlian School), bertema “Makanan Bergizi di Sekolah Sehat bersama Unicef’”.

Nutrition Officer Unicef Field Office Surabaya itu menyatakan, “Gizi seimbang menjadi kunci pertumbuhan dan perkembangan yang optimal,” ucapnya, Jumat (15/10/21).

Empat pilar gizi seimbang, lanjutnya, harus dilaksanakan secara utuh setiap hari untuk menjaga kesehatan anak-anak. Dia lantas menjelaskan empat hal itu.

Pertama, makanan harus bermacam-macam. “Tidak boleh hanya nasi dengan telur atau nasi dengan nugget, kalau bisa ada ikan, sayur, buah, telur dan nasi,” jelasnya.

Kedua, mencuci tangan. “Biasakan hidup bersih dengan mencuci tangan saat sebelum masuk rumah, sebelum dan sesudah makan. Sering mencuci tangan supaya hidup bersih dan terbebas dari penyakit seperti Covid-19, diare dan batuk,” imbuhnya.

Ketiga, menjaga berat badan. “Jangan sampai terlalu kurus atau gemuk. Apabila ada penimbangan di sekolah langsung lihat sudah pas atau belum berat badannya,” terangnya.

Dan keempat, olahraga.

Proporsi Makanan dalam Isi Piringku

Karina Widowati menekankan, setiap kali makan, 2/3 bagian dari setengah piring masing-masing untuk makanan pokok dan sayuran, 1/3 bagian dari setengah piring masing-masing untuk lauk-pauk dan buah.

Hal itu, menurutnya, sesuai dengan anjuran isi piringku dengan komposisi sayur sebanyak 3-4 pors per hari, sedangkan buah 2-3 porsi per hari.

Karina menambahkan, setiap kali makan tetap ada sayur, buah, dan protein hewani agar tumbuh maksimal karena sayur dan buah mengandung vitamin, mineral, dan serat yang dibutuhkan oleh tubu. Hal ini harus diupayakan untuk dilaksanakan setiap hari sehingga menjadi suatu kebiasaan.

Tips Menyiapkan Sarapan Sehat

Karina menjelaskan, sarapan memiliki dampak yang positif bagi perilaku siswa di kelas, maupun bagi prestasi akademik siswa secara umum.

“Sebaliknya siswa yang memilih untuk tidak sarapan berisiko mudah lelah dan sulit memfokuskan perhatian yang tentunya akan berakibat negatif pada performanya di sekolah,” ujarnya.

Tiga hal penting tentang sarapan sebelum berangkat ke sekolah dijelaskan oleh Karina. Pertama, Sarapan bukan sekadar mengganjal perut.

“Sarapan dapat memberikan energi agar siswa bisa beraktivitas dengan baik, otak bekerja lebih optimal, dan tidak cepat mengantuk,” jelasnya.

Kedua, pola gizi seimbang pada sarapan sehat. “Terdiri dari sumber karbohidrat (60-68 persen), protein (12-15 persen), lemak (15-25 persen), dan vitamin/mineral,” sebutnya.

Ketiga, sarapan sehat juga berperan penting bagi kita untuk mempertahankan dan meningkatkan prestasi kita di sekolah.

Cara Menyiapkan Sarapan Sehat

Karina punya tips cara menyiapkan makanan sehat. Pertama, siapkan menu dengan gizi seimbang. Kedua, pilih menu sarapan yang mudah disiapkan tapi bervariasi dari berbagai bahan makanan.

Ketiga, sumber utama karbohidrat untuk sarapan tidak harus nasi. Boleh ditambahkan susu atau hasil olahannya seperti yogurt.

Keempat, penting untuk mengonsumsi sayur atau buah saat sarapan, bisa buah segar atau diblender dan minum air yang cukup

Perhatikan Konsumsi Gula, Garam, dan Lemak 

Karina meminta agar siswa-siswi Berlian School menghindari makanan dengan warna mencolok, digoreng dengan minyak goreng yang digunakan berulang-ulang, atau yang mengandung zat kimia berbahaya.

“Kadar garam, gula, dan lemak berlebih karena akan mempengaruhi gizi yang masuk pada anak-anak,” ujarnya.

Dalam sehari, lanjutnya, konsumsi gula tidak boleh lebih dari 50 gr (4 sendok makan); garam tidak melebihi 2.000 mg; natrium/sodium atau 5 gr (1 sendok teh); lemak hanya 67 gr (5 sendok makan minyak).

“Untuk memudahkan mengingat rumusnya adalah G4 G1 L5,” ucapnya.

Karina mengingatkan, konsumsi gula berlebih meningkatkan risiko penyakit diabetes (kencing manis). Konsumsi garam berlebih meningkatkan risiko penyakit hipertensi (tekanan darah tinggi). Dan konsumsi lemak berlebih meningkatkan resiko penyakit jantung.

“Perhatikan kandungan gula, garam, dan lemak yang kita konsumsi pada produk makanan atau minuman kemasan dengan melihat label informasi gizi yang tertera pada kemasan makanan,” tuturnya.

Karina menutup seminar dengan mengingatkan pentingnya membaca label makanan dan minuman. “Terutama keterangan tentang halal, daftar bahan yang digunakan atau komposisi, berat/isi, informasi nilai gizi, izin edar, dan tanggal kadaluarsa,” ujarnya. (*)

Penulis Waviq Amiqoh Editor Mohammad Nurfatoni


Category: Uncategorized