PWMU.CO – Saat Siswa Berlian Berselancar Intip Koleksi Bersejarah Muspen. Tepat pukul 10.00 WIB para siswa yang berseragam rapi setelan biru muda beraksen kotak-kotak, duduk tenang sambil menatap layar gawainya.

Wajah-wajah mereka tampah sumringah. Beberapa terlihat menunggu dengan penasaran. Maklum, anak-anak siswa kelas IV dan V SDM Muhammadiyah 2 GKB (Berlian School) iu hendak ‘jalan-jalan’ ke Museum Penerangan (Muspen) Jakarta.

Bukan naik pesawat atau kereta api, melainkan berselancar dengan internet. Di masa pandemi Covid-19, kegiatan jalan-jalan kali ini dirancang berbeda dari tahun sebelumnya. Semua kegiatan yang biasa dilakukan secara tatap muka langsung beralih menajdi daring. Termasuk Virtual Experience Muspen ini.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan Berlian Shcool, Nur Hamidah SPd, menyampaikan acara ini sebagai pengganti agenda rutin field trip. “Biasanya anak-anak langsung ke lokasi,” tuturnya.

Dengan didampingi para guru, siswa tetap bisa jalan-jalan secara di depan layar gawai masing-masing. “Meski online, bisa jalan-jalan sampai ke Jakarta,” ujar Hamidah memotivasi siswa.

Siswa Kelas V Al-Hambra, Muhammad Alan Herinda, menungkapkan, ia antusias karena merasa seolah mengunjungi museum secara langsung. “Senang dapat pengetahuan baru, kayak jalan-jalan langsung ke museum penerangan,” ujarnya.

Alan mengikuti kegiatan bersama seorang adiknya yang masih TK. Sesekali mereka bercengkrama. Sementara mata mereka tetap menatap layar. “Tadi adik yang masih TK juga penasaran, makanya lihat-lihat Zoom,” jelasnya.

Karena menarik, ia berharap Berlian School kembali memyelenggarakan kegiatan serupa. “Terima kasih, lain kali ada seperti ini lagi ya,” ujarnya penuh harap.

Intip Koleksi Bersejarah

Dalam kegiatan ini, siswa dapat melihat koleksi-koleksi bersejarah mengenai layanan informasi dan komunikasi pada zaman dahulu. Dipandu langsung oleh Fashirun—tour guide Muspen yang akrab disapa Kak Irun—selama  kurang lebih 45 menit.

Sebelum masuk ke Muspen, Fashirun mencuci tangan sesuai protokol kesehatan. Siang itu Muspen tampak lengang. Hanya ada Fashirun dan seorang juru kameranya.

Koleksi pertama yang ditunjukkan Fashirun berupa kentongan. Lantas ia menjelaskan manfaatnya pada zaman dahulu. “Untuk menyampaikan informasi ada bencana dan tindak kejahatan,” terangnya. Kemudian ia menjelaskan dua jenis kentongan lainnya yang berukuran lebih besar, yaitu kentongan berukir dan gagah rancah.

Fashirun lalu mengajak siswa melihat radio umum dan logo Radio Republik Indonesia (RRI) dari masa ke masa. Ia memutar lingkaran di dinding yang salah satu ujungnya berlubang, sehingga memperlihatkan logo pada tahun tertentu. Jika Fashirun memutar lingkarannya, maka ujung yang berlubang menunjukkan logo di tahun berikutnya.

“Ini penyiar-penyiar TVRI yang pertama,” jelasnya sambil menunjukkan tiga foto orang yang menempel di dinding.

Lantas ia mengajak siswa mengingat film kartun yang ada sejak dulu, yaitu si Unyil. Beberapa boneka tangan tokoh-tokoh si Unyil berjajar di sana.

Menariknya, di Muspen juga terdapat diorama studio TVRI, lengkap dengan ruang operatornya. “Ini para penyiar TV yang sedang membawakan siaran berita,” jelasnya sambil duduk di samping dua patung yang berukuran hampir sama dengannya.

Beberapa diorama, koleksi film, dan teknologi grafika berupa mesin tik adalah sajian selanjutnya. “Untuk menulis naskah surat-menyurat,” Fashirun menjelaskan manfaat mesin tik sambil mempraktikkan penekanan tombol-tombolnya. Suara keras muncul seiring ketukan jemarinya.

Tak hanya itu, mesin pencetak koran dan naskah yang besar juga ia tunjukkan. Kegiatan Virtual Experience ini ia akhiri dengan menunjukkan fasilitas Kids Corner. “Kalau kakak-kakak lagi muter-muter di museum, adik-adiknya bisa disini,” terang Laras ikut menjelaskan.

Laras menjelaskan Muspen merupakan fasilitas milik pemerintah, sehingga pengunjung dapat menikmati semua fasilitas disana secara gratis. “Tanpa biaya apapun!” ujarnya sambil mengajak para siswa dan guru berkunjung secara lansung setelah pandemi berakhir.

Fashirun memandu acara secara langsung di Museum Penerangan. (Tangkapan layar Ahmad Nasafi/PWMU.CO)

Curhatan para Siswa

Setelah puas menyimak informasi tentang jejak TVRI di Muspen, pertanyaan kritis disampaikan Mohammad Danish Sharim Taqiuddin, siswa Kelas IV Wakatobi. “TVRI kan TV Republik Indonesia, tapi TVRI sekarang nggak ada di TV?” tanyanya.  Ia mengira bahwa TVRI sudah menjadi sejarah.

Laras—pemandu acara dari Muspen—menjelaskan TVRI masih aktif ditayangkan hingga sekarang. “Minta tolong ke papa atau ibunya untuk mencari channel-nya ya!” Laras menyarankan.

Kepada Laras, siswi Kelas IV Kapuas, Azzalea Ramadhani Fadilah Tanjung turut menceritakan pengalamannya ketika berkunjung ke TMII. “Tapi nggak ketemu museum penerangan,” tulisnya di kolom obrolan daring.

Kemudian Laras menjelaskan sebenarnya Muspen berada di lokasi yang strategis. “Di dekat pintu 2 TMII, persis di sebelah kirinya!” urai Laras. Jadi sebenarnya dengan logo besar yang mencolok di depan bangunannya, Muspen mudah ditemui jika masuk TMII melalui pintu 2, lanjutnya.

Laras takjub Berlian School yang berlokasi di Kota Gresik ini mengadakan kunjungan secara virtual ke Muspen Jakarta di musim pandemi. “(Berlian School) termasuk sekolah yang jauh, yang ikut virtual experience di Muspen!” komentarnya.

Saat Siswa Berlian Berselancar Intip Koleksi Bersejarah Muspen. Fashirun menunjukkan koleksi mesin pencetak koran. (Ahmad Nasafi/PWMU.CO)

Kesan Siswa Diajak Virtual Tour

Kebahagiaan luar biasa dirasakan Malik Zaidan Al Kautsar—siswa Kelas V Al-Cazar— setelah berhasil menjawab kuis di kegiatan Virtual Experiance Muspen ini. “Masyaallah senang sekali,” tuturnya melalui obrolan daring setelah kegiatan berlangsung.

Zaidan, saapan akrabnya, langsung membangunkan ibunya yang sedang tidur di depan TV. Lantas ia mencium singkat hingga membuat sang ibu terkejut dan bertanya, “Ada apa?”

“Bisa menjawab kuis Bu!” ujar Zaidan dengan puas dan menunjukkan raut wajah ceria.

Meski ia sempat bingung dan berusaha mengingat kembali penjelasan Fashirun, akhirnya ia mampu menyebutkan dua koleksi di Muspen. “Mesin tik…. Diorama,” jawab Zaidan terputus-putus oleh koneksi internetnya.

Zaidan berfokus menyimak selama Fashirun membimbing para siswa mengelilingi museum. Dia antusias sebab kegiatan ini adalah pengalaman pertamanya melihat koleksi bersejarah di Muspen. Dia mengaku pernah mengunjungi TMII setelah mengikuti babak final Olimpiade Sains Kuark saat kelas II. Tetapi ia belum sempat berkunjung ke Muspen.

“Dulu diajak ibu sama ayah, tapi tidak masuk museum, (karena) Taman Mininya luas bangeeettt!” terangnya.

Perasaan yang sama juga dirasakan sepasang siswa kembar bernama Syafa Aurellia Azzahra (siswi kelas V Giralda) dan Syifa Aurellia Azzahra (siswi kelas V Al-Cazar).  “Alhamdulillah, menyenangkan bisa keliling dan mengetahui sejarah alat komunikasi di Indonesia,” jelas Syafa yang diiyakan Syifa. Keduanya belum pernah berkunjung ke sana secara langsung.

Mereka semakin bahagia saat mampu menjawab kuis di mana letak Muspem. “Taman Mini Indonesia Indah-Taman Mini Indah Indonesia,” jawab mereka secara bersamaan.

Mereka berharap bisa berkunjung langsung suatu saat nanti, tentunya setelah pandemi berakhir. “Insyaallah kalo sehat dan ada rezeki,” ujar Syifa

Sejumlah empat siswa mampu menjawab kuis pada kegiatan Virtual Experience Kamis (18/2/2021) sian. Kesempatan menjawab yang terakhir didapatkan Fardhana Keyano Fifaldi—siswa Kelas V Al-Hambra).

Dia semangat menjawab, “Bu Tin…” saat ditanya sosok yang meresmikan Muspen. Karena salah, ia kemudian mengoreksi dengan tenang. “Soeharto,” ralatnya.

Semua pertanyaan dalam kuis tersebut telah dijelaskan Laras dan Fashirun, tim Muspen, selama Virtual Experience. Keempat siswa—yang terpilih untuk menjawab kuis tersebut—memperoleh hadiah yang langsung dikirim dari Muspen.

Selamat! (*)

Penulis Sayyidah Nuriyah Editor Mohammad Nurfatoni

Artikel ini telah diterbirtkan oleh PWMU dengan judul yang sama pada Kamis 18 Pebruari 2021


Category: Uncategorized